Jumat, 06 Juli 2012

Kumpulan Trik dan Tips

Kumpulan Trik dan Tips


Renungan Dan Penelitian Kata Insya Allah

Posted: 06 Jul 2012 10:29 AM PDT

Makna Insya allah
Sudah lama saya mencermati ungkapan INSYAALLAH yang sangat sering digunakan baik dalam bahasa tutur maupun tulis. Ungkapan ini dipakai karena si penutur tak ingin 'melangkahi' kehendak Tuhan.

"Kalau Allah menghendaki, saya datang," begitu kira-kira maksudnya.

Bahkan, saya perhatikan, saat dilantik sebagai presiden Republik Indonesia, Jenderal Soeharto selalu pakai ungkapan ini: INSYAALLAH.

"Apakah Saudara Soeharto siap dilantik sebagai presiden Republik Indonesia?" tanya ketua Mahkamah Agung.

"Insyaallah!" jawab Soeharto.

Meskipun tentara sejati, jenderal tulen, Pak Harto tidak bilang SIAP, YA, LAKSANAKAN, dan sejenisnya. Di Jawa Timur, INSYAALLAH ini bisa kita dengar dalam percakapan mulai dari warung-warung kopi, restoran, hotel bintang lima, kantor media, hingga televisi.

Pertanyaannya, bagaimana penulisan INSYAALLAH yang benar menurut ejaan standar bahasa Indonesia? Ada beberapa versi:

Insyaallah (dirangkai)
InsyaAllah (dirangkai, Allah pakai A besar)
Insya Allah (paling banyak dipakai di Indonesia saat ini)
Insyallah (biasa dipakai politisi Partai Keadilan Sejahtera)


Kemarin, saya membaca lima koran dan satu tabloid hiburan. Saya menemui banyak ungkapan INSYAALLAH, maklum bulan RAMADAN (bukan RAMADHAN, bukan RAMADLAN, bukan RAMADHON, bukan RAMADLON, bukan ROMADLON, bukan ROMADHLON....).

Di majalah dan surat kabar di Indonesia, cara menulis INSYAALLAH memang berbeda-beda satu sama lain. Bahkan, di surat kabar yang sama penulisan INSYAALLAH berbeda di halaman 1, halaman 4, halaman 10, dan seterusnya. Apalagi bila surat kabar itu tidak punya copy editor atau penyunting bahasa yang berkualitas.

Mana yang standar?

Frase serapan bahasa Arab ini sebetulnya sudah dibahas JS Badudu, ahli bahasa Indonesia, pada tahun 1980-an. Tapi, seperti biasa, orang Indonesia sangat mudah lupa. Ingatan orang Indonesia memang pendek. Bahkan, terlalu banyak orang Indonesia yang kurang memperhatikan tata bahasa, morfologi, sintaksis, hingga ejaan standar.

Termasuk orang-orang yang seharusnya menjadi panutan macam guru, dosen, profesor, peneliti. Janganlah ditiru gaya bahasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memang sangat suka bersolek dengan ungkapan-ungkapan bahasa Inggris yang sudah ada padanan dalam bahasa Indonesia.

Nah, saya sendiri ingat betul uraian Jus Badudu meskipun buku lama terbitan Alumni Bandung milik saya itu sudah lama hilang. Menurut Pak Badudu, interjeksi serapan dari bahasa Arab itu HARUS ditulis serangkai. Tidak dipisahkan. Dan itu tak hanya berlaku untuk INSYAALLAH, tapi juga interjeksi-interjeksi sejenis.

Beginilah penulisan yang benar itu:

insyaallah BUKAN insya Allah BUKAN insyaAllah.


(Jika dipakai di awal kalimat, tentu saja ditulis misalnya: "Insyaallah, Indonesia ikut Piala Dunia!"

masyaallah BUKAN masya Allah
subhahanallah BUKAN subhahana Allah
alhamdulillah BUKAN alhamduli Allah



Sering saya mendengar ungkapan menggelikan dari beberapa mahasiswa dan aktivis gereja, khususnya Gereja Katolik, di Surabaya. Hanya karena mencoba menghindari kata ALLAH (di Malaysia bisa diproses hukum, karena kata ALLAH tak boleh digunakan warga non-Islam!), maka beberapa dari mereka menggunakan ungkapan INSYA TUHAN. Hehehe....

Sejak kapan ada ungkapan INSYA TUHAN atau INSYA DEWA?

Hehehe.... Ada-ada saja!

Saya pernah menjelaskan secara panjang lebar kepada Anggraeni, mahasiswi Universitas Bhayangkara Surabaya, yang beragama Katolik. Cewek yang tinggal di Sidoarjo ini selalu menggunakan ungkapan INSYA TUHAN dalam kalimat tuturnya meskipun, saya tahu, ada nuansa guyon atawa informal khas remaja.

"Dalam bahasa Indonesia kita tidak kenal istilah INSYA TUHAN. Yang benar hanya INSYAALLAH. Dan ungkapan itu boleh dipakai semua orang Indonesia, apa pun agamanya," kata saya menirukan penjelasan Pak Badudu, pakar bahasa yang saya kagumi itu.

"Lantas, bagaimana ucapan INSYAALLAH yang benar?"

"Harus mengikuti logat Arab karena INSYAALLAH ini termasuk serapan utuh."

Mudah-mudahan Anggareni dan kawan-kawan tidak membuat pelesetan yang tidak perlu seperti MASYA TUHAN. 



{sumber}

Makna Besar Dibalik "Insya Allah"

Posted: 06 Jul 2012 10:16 AM PDT

Makna Agung kata 'Insya Allah'. Jangan Sembarangan Mengucapkannya, harus hati-hati dalam mengucapkannya.

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.
Dalam buku Asbabun Nuzul yang disusun oleh KH Q Shaleh dkk (1995) menukil riwayat mengenai asbabun nuzul (sebab turun) surah al-Kahfi ayat 23-24. "Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan
tentang sesuatu: Sesungguhnya aku akan
mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut); 'Insya Allah'...." (QS al-Kahfi
[16]:23-24).

Suatu hari,
kaum Quraisy mengutus an-Nadlr bin
al-Harts dan Uqbah bin Abi Mu'ith menemui seorang pendeta Yahudi di Madinah untuk menanyakan kenabian Muhammad. Lalu, kedua utusan itu menceritakan segala hal yang berkaitan dengan sikap, perkataan, dan perbuatan Muhammad. Lalu, pendeta Yahudi berkata, "Tanyakanlah kepada Muhammad akan tiga hal. Jika dapat menjawabnya, ia Nabi yang diutus. Akan tetapi, jika tak dapat menjawabnya, ia hanyalah orang yang mengaku sebagai Nabi.

Pertama, tanyakan tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi kepada mereka.

Kedua, tanyakan juga tentang seorang
pengembara yang sampai ke Masyriq dan Maghrib dan apa yang terjadi padanya.

Ketiga, tanyakan pula kepadanya tentang roh."

Pulanglah utusan itu kepada kaum Quraisy. Lalu, mereka berangkat menemui Rasulullah SAW dan
menanyakan ketiga persoalan tersebut di atas. Rasulullah SAW bersabda, "Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok." Rasul menyatakan itu tanpa disertai kalimat "insya Allah". Rasulullah SAW menunggu-nunggu wahyu sampai 15 malam, namun Jibril tak kunjung datang. Orang-orang Makkah mulai mencemooh dan Rasulullah sendiri sangat sedih, gundah gulana, dan malu karena tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada kaum Quraisy. Kemudian, datanglah Jibril membawa wahyu yang menegur Nabi SAW karena memastikan sesuatu pada esok hari tanpa mengucapkan "insya Allah". (QS al-
Kahfi [18]:23-24).

Dalam kesempatan ini, Jibril juga menyampaikan tentang pemuda-pemuda yang bepergian, yakni
Ashabul Kahfi (18:9-26); seorang pengembara, yakni Dzulqarnain (18:83-101); dan perkara roh (17:85).

Mufassir Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Kitab
Jaami'ul Bayan menjelaskan, "Inilah pengajaran Allah kepada Rasulullah SAW agar jangan memastikan suatu perkara akan terjadi tanpa halangan apa pun, kecuali menghubungkannya dengan kehendak Allah SWT. Sungguh agung makna kata "insya Allah" itu. Di dalamnya dikandung makna paling tidak empat hal.

Pertama, manusia memiliki ketergantungan
yang tinggi atas rencana dan ketentuan Allah (tauhid).

Kedua, menghindari kesombongan
karena kesuksesan yang dicapai (politik, kekayaan, keilmuan, dan status sosial.)

Ketiga,
menunjukkan ketawaduan (keterbatasan diri untuk melakukan sesuatu) di hadapan manusia dan Allah SWT.

Keempat, bermakna optimisme akan hari esok yang lebih baik.

Bagaimana jika kata "insya Allah" dijadikan
tameng untuk memerdaya manusia atau dalih untuk melepaskan diri dari tanggung jawab ??

Sesungguhnya kita telah melakukan dua dosa.
Pertama, menipu karena menggunakan zat-Nya.

Kedua, kita telah menipu diri kita sendiri

karena sesungguhnya kita enggan menepatinya, kecuali sekadar menjaga hubungan baik semata dengan
rekan, kawan, atau relasi.

Wallahu a'lam.

Tulisan ini dimuat di Republika cetak dengan judul Makna Insya Allah ...

1 komentar:

  1. Insyaallah bukan terdiri dari 2 kata (insya Allah) tetapi 3 kata (in syaa Allah). Kata Allah bila didahului oleh kata lain maka huruf pertamanya hilang melebur. Bismi Allah menjadi Bismillah. Alhamdu li Allah menjadi Alhamdulillah. In syaa Allah menjadi Insyaallah. Salam

    BalasHapus